comfort zone
sesekali keluarlah dari zona nyaman.
terlalu lama di sana tidak akan membuatmu berkembang.
tantang dirimu dengan sesuatu yang baru.
yang membuatmu bisa beradu dengan tekanan.
dari kecil aku hidup dan besar di zona ternyaman dalam diriku.
lahir di keluarga yang cukup mampu dan mengerti tentang ilmu.
lingkungan tempat tinggalku pun membuatku slalu nyaman, kalaupun ada masalah hanya masalah kecil,
yang jika aku tak mampu menghadapinya, maka orangtuaku lah yang akan menyelesaikannya.
itu menyenangkan, tapi setelah kupikir, itu seperti menekan diriku.
hidupku terlalu datar dan mudah.
sampai Sang pemilik Takdir mengujiku dengan mengambil salah satu dari orang tua ku, kepala keluargaku.
aku tak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan melihat bapak terbaring kaku terbungkus kain kafan putih itu di usiaku yang ke 15 tahun.
tapi, yang aku tau, rasa sesakku tak ada apa-apanya dibanding ibu dan adek bungsuku.
ibu,, titik kekuatan, kesabaran dan ketabahan nya diuji ketika itu, dimana beliau harus tetap tabah dan sabar dengan guncangan terbesarnya, dan harus tetap kuat untuk membesarkan aku dan saudara-saudaraku.
padahal, di sisi lain, aku tau ibuku lemah, rapuh dan seperti tak berdaya, yang tiba-tiba saja ditinggalkan.
ibuku, dia sosok hebat yang selalu aku kagumi kehebatannya. dia bisa bangkit, dengan segala sisa-sisa kekuatannya, walaupun pada akhirnya dipertengahan malam ia selalu mengadu kepada sang pemilik takdir dengan linangan air mata.
salah satu zona nyamanku adalah memiliki ibu hebat sepertinya, yang slalu bisa menyelesaikan masalahku yang tak bisa kuhadapi.
terlalu lama di sana tidak akan membuatmu berkembang.
tantang dirimu dengan sesuatu yang baru.
yang membuatmu bisa beradu dengan tekanan.
dari kecil aku hidup dan besar di zona ternyaman dalam diriku.
lahir di keluarga yang cukup mampu dan mengerti tentang ilmu.
lingkungan tempat tinggalku pun membuatku slalu nyaman, kalaupun ada masalah hanya masalah kecil,
yang jika aku tak mampu menghadapinya, maka orangtuaku lah yang akan menyelesaikannya.
itu menyenangkan, tapi setelah kupikir, itu seperti menekan diriku.
hidupku terlalu datar dan mudah.
sampai Sang pemilik Takdir mengujiku dengan mengambil salah satu dari orang tua ku, kepala keluargaku.
aku tak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan melihat bapak terbaring kaku terbungkus kain kafan putih itu di usiaku yang ke 15 tahun.
tapi, yang aku tau, rasa sesakku tak ada apa-apanya dibanding ibu dan adek bungsuku.
ibu,, titik kekuatan, kesabaran dan ketabahan nya diuji ketika itu, dimana beliau harus tetap tabah dan sabar dengan guncangan terbesarnya, dan harus tetap kuat untuk membesarkan aku dan saudara-saudaraku.
padahal, di sisi lain, aku tau ibuku lemah, rapuh dan seperti tak berdaya, yang tiba-tiba saja ditinggalkan.
ibuku, dia sosok hebat yang selalu aku kagumi kehebatannya. dia bisa bangkit, dengan segala sisa-sisa kekuatannya, walaupun pada akhirnya dipertengahan malam ia selalu mengadu kepada sang pemilik takdir dengan linangan air mata.
salah satu zona nyamanku adalah memiliki ibu hebat sepertinya, yang slalu bisa menyelesaikan masalahku yang tak bisa kuhadapi.
Comments
Post a Comment